Ahli Waris dalam Hukum Islam

Ahli Waris dalam Hukum Islam—Waris merupakan salah satu bentuk peralihan harta yang ditinggalkan seseorang yang meninggal kepada ahli warisnya. Dalam hal kewarisan, tentu tidak lepas dengan yang namanya ahli waris, yakni orang yang menerima harta waris. Bagaimana Hukum Islam mengatur mengenai Ahli Waris?

Dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI), tepatnya pada Pasal 171 huruf c disebutkan apa yang dimaksud dengan Pewaris, yakni adalah orang yang pada saat meninggal dunia mempunyai hubungan darah atau hubungan perkawinan dengan pewaris, beragama Islam dan tidak terhalang karena hukum untuk menjadi ahli waris.

Syarat Ahli Waris

Syarat ahli waris dapat kita lihat dalam Kompilasi Hukum Islam (KHI) yakni:

  • Beragama Islam

Hal ini didasarkan pada Pasal 172 KHI yang menyebutkan:

Ahli waris dipandang beragama Islam apabila diketahui dari Kartu Identitas atau pengakuan atau amalan atau kesaksian, sedangkan bagi bayi yang baru lahir atau anak yang belum di\ewasa, beragama menurut ayahnya atau lingkungannya.

  • Mempunyai Hubungan Darah atau hubungan Perkawinan

Hal ini didasarkan pada Pasal 174 KHI yakni:

a. Menurut hubungan darah:

– golongan laki-laki terdiri dari : ayah, anak laki-laki, saudara laki-laki, paman dan kakek.

– Golongan perempuan terdiri dari : ibu, anak perempuan, saudara perempuan dari nenek.

  • Tidak terhalang karena hukum.

Halangan seseorang menjadi ahli waris diatur dalam Pasal 173 yaitu:

Seorang terhalang menjadi ahli waris apabila dengan putusan hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum yang tetap, dihukum karena:

a. dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat para pewaris;

b. dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewaris telah melakukan suatu kejahatan yang diancam dengan hukuman 5 tahun penjara atau hukuman yang lebih berat.

Klasifikasi Ahli Waris

Adapun menurut hukum Islam, ahli waris dapat dibagi menjadi 2 (dua) macam menurut hubungannya dengan pewaris:

  1. Ahli waris nasabiyah

Ahli waris ini mempunyai hubungan dengan pewaris melalui hubungan darah (nasab). Sebab nasab antara pewaris dan ahli waris menunjukkan hubungan kekeluargaan.

  • Ahli waris sababiyah.

Ahli waris ini mempunyai hubungan dengan pewaris mengenai sebab tertentu yang dapat dibagi menjadi 2 (dua) yakni:

  • Al Mushoharoh, yakni melalui perkawinan yang sah.
  • Melalui perjanjian tolong menolong dikarenakan memerdekakan hamba sahaya (al wala’)

Selain itu, ahli waris juga dapat dikelompokkan menurut pembagian harta warisannya, yang dapat dibagi menjadi 3 (tiga) jenis, yaitu:

  1. Dzawil Furud

Dzawil Furud berarti mempunyai bagian. Dzawil Furud disebutkan dalam Pasal 192 KHI. Ahli waris ini mempunyai bagian yang telah ditetapkan oleh hukum syariat (Al-Quran dan Al Hadist), antara lain yakni:

  • Ayah
  • Ibu
  • Anak Perempuan
  • Janda atau Duda.
  • Ashobah

Ahli Waris Ashobah disebutkan dalam Pasal 193 KHI. Ahli waris ini mendapat bagian setelah para ahli waris dzawil furud ditentukan bagiannya. Ahli waris ini terdiri dari:

  • Anak laki-laki atau anak perempuan bersama anak laki-laki.
  • Cucu laki-laki atau cucu perempuan bersama cucu laki-laki.
  • Ayah
  • Kakek
  • Saudara laki-laki kandung atau saudara perempuan kandung bersama saudara laki-laki kandung
  • Saudara laki-laki seayah; atau saudara perempuan seayah bersama saudara laki-laki seayah.
  • Mawali

Ahli Waris Mawali merupakan ahli waris pengganti. Pasal 185 KHI mengatur mengenai Ahli waris ini yakni:

(1) Ahli waris yang meninggal lebih dahulu dari pada sipewaris maka kedudukannya dapat digantikan oleh anaknya, kecuali mereka yang tersebut dalam Pasal 173

(2) Bagian ahli waris pengganti tidak boleh melebihi dari bagian ahli waris yang sederajat dengan yang diganti.

Related Post
Pentingnya Akta Ikrar Wakaf dalam Perwakafan

Pentingnya Akta Ikrar Wakaf­— Tidak jarang dalam hal wakaf, ditemui adanya sengketa terkait harta yang telah diwakafkan. Biasanya sengketa terjadi Read more

Anak Angkat dalam Pembagian Harta Warisan

Anak Angkat dalam Pembagian Harta Warisan—Mengangkat (adopsi) anak bukan hal yang baru di Indonesia. Perbuatan mengangkat anakpun sesungguhnya memunculkan beberapa Read more

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *