Dapatkah Hak Cipta diwariskan?

Pewarisan Hak Cipta—Dikala  mendengarkan lagu, menonton film atau membaca buku, pasti kita tahu bahwa ada hak cipat terkandung pada karya yang kita nikmati tersebut kepada penciptanya. Namun, pencipta karya tersebut kelak pasti akan meninggal dunia atau malah penciptanya meninggal. Bagaimana hak cipta dari pencipta tersebut? Apakah dapat diwariskan?

Pertama-pertama, kita harus mengetahui terlebih dahulu bahwa dalam hukum keperdataan di Indonesia mengenal 2 (dua) sistem pewarisan yaitu:

  1. Sistem Pewarisan Ab Intestato.

Sistem pewarisan ini merupakan pewarisan tanpa surat wasiat atau warisan menurut hubungan darah/undang-undang. Ada beberapa golongan yang termasuk dalam sistem pewarisan ini rinciannya yakni:

  • Golongan pertama terdiri dari suami/istri dan anak-anak pewaris beserta keturunannya. (Pasal 852, 852a Ayat 1, 852a Ayat 2 KUHPerdata).
  • Golongan kedua terdiri dari ayah dan ibu atau salah satu dari ayah/ibu beserta saudara/keturunannya. (Pasal 854, 855, 856, 857 KUHPerdata).
  • Golongan ketiga terdiri dari kakek dan/atau nenek dan seterusnya baik dalam garis ayah maupun ibu. (Pasal 85, 853, 858 KUHPerdata).
  • Golongan keempat terdiri dari saudara kandung serta keturunan mereka sampai derajat keenam. (Pasal 850, 858, 861, KUHPerdata).
  • Sistem Pewarisan Surat Wasiat (Testament)

Sistem pewarisan ini diatur dalam Pasal 875 KUHPerdata yang berbunyi:

Surat wasiat atau testamen adalah sebuah akta berisi pernyataan seseorang tentang apa yang dikehendakinya, terjadi setelah ia meninggal yang dapat dicabut kembali olehnya.

Ada beberapa syarat dalam membuat surat wasiat yakni:

  • Orang yang membuat surat wasiat merupakan orang yang sehat pikirannya (Pasal 895 KUHPerdata).
  • Sekurang-kurangnya berusia 18 tahun (Pasal 897 KUHPerdata).
  • Orang yang menerima surat wasiat harus sudah ada dan masih ada pada saat pewaris meninggal dunia. (Pasal 899 KUHPerdata).

Adapun mengenai hak cipta, hak cipta terdiri atas 2 (dua) hak, yakni hak moral dan hak ekonomi. Adapun mengenai hak moral rinciannya diatur dalam Pasal 5 Ayat 1 Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta (UU 24/2008) yang di antaranya:

Hak moral sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 merupakan hak yang melekat secara abadi pada diri Pencipta untuk:

a. tetap mencantumkan atau tidak mencantumkan namanya pada salinan sehubungan dengan pemakaian Ciptaannya untuk umum;

b. menggunakan nama aliasnya atau samarannya;

c. mengubah Ciptaannya sesuai dengan kepatutan dalam masyarakat;

d. mengubah judul dan anak judul Ciptaan; dan

e. mempertahankan haknya dalam hal terjadi distorsi Ciptaan, mutilasi Ciptaan, modifikasi Ciptaan, atau hal yang bersifat merugikan kehormatan diri atau reputasinya.

Dan ada juga hak ekonomi yang rinciannya diatur pada Pasal 9 Ayat 1 UU 24/2008 tentang Hak Cipta yaitu:

Pencipta atau Pemegang Hak Cipta sebagaimana dimaksud dalam Pasal 8 memiliki hak ekonomi untuk melakukan:

a. penerbitan Ciptaan;

b. Penggandaan Ciptaan dalam segala bentuknya;

c. penerjemahan Ciptaan;

d. pengadaptasian, pengaransemenan, atau pentransformasian Ciptaan;

e. Pendistribusian Ciptaan atau salinannya;

f. pertunjukan Ciptaan;

g. Pengumuman Ciptaan;

h. Komunikasi Ciptaan; dan

i. penyewaan Ciptaan.

Merujuk pada pasal Pasal 16 Ayat 16 UU 24/2008 tentang Hak Cipta menyebutkan mengenai sifat dari hak cipta yaitu:

Hak Cipta merupakan Benda bergerak tidak berwujud.

Sifat kebendaan dalam hak cipta ini dijelaskan telah dijelaskan oleh Van Apeldoorn dalam bukunya “Pengantar Ilmu Hukum” bahwa hukum kebendaan merupakan bagian dari hukum harta kekayaan. Unsur kekayaan inilah yang melahirkan adanya hak yang terkadung dalam sebuah hak cipta.

Karenanya dalam Pasal 16 Ayat 2 UU 24/2008 tentang Hak Cipta sebagaimana sebuah benda, hak cipta dapat dialihkan, selengkapnya:

Hak Cipta dapat beralih atau dialihkan, baik seluruh maupun sebagian karena:

a. pewarisan;

b. hibah;

c. wakaf;

d. wasiat;

e. perjanjian tertulis; atau

f. sebab lain yang dibenarkan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Nah, dari penjelesan serta aturan yang ada dalam peraturan perundang-undangan di atas, maka hak cipta dapat diwariskan. Namun, wajib diingat bahwa yang diwariskan dalam hak cipta adalah hak ekonominya saja, sedangkan hak moralnya tetap melekat pada pencipta karya tersebut.

Related Post
Hukum Menggunakan Foto Orang Lain Untuk Iklan

Pernahkah anda melihat beberapa iklan atau reklame yang menggunakan foto seorang model atau foto orang yang tidak dikenal, atau bahkan Read more

Cara Melindungi Hak Cipta Konten YouTube yang Wajib Diketahui

Sebagai seorang YouTuber, Anda tentu berupaya untuk melindungi hak cipta konten YouTube agar tidak disalahgunakan orang lain. Hak cipta atau Read more

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *