Hukum Menggunakan Foto Orang Lain Untuk Iklan

Pernahkah anda melihat beberapa iklan atau reklame yang menggunakan foto seorang model atau foto orang yang tidak dikenal, atau bahkan foto artis atau tokoh terkenal? Dilihat dari artinya menurut KBBI yang dimaksud dengan foto adalah potret. Menurut pengertian secara umum foto adalah gambar yang terbuat dari kamera dan peralatan fotografi. Foto atau fotografi berasal dari bahasa Inggris photography, yang berasal dari kata Yunani yaitu “photos” yang bermakna cahaya dan “grafo” yang berarti melukis/menulis. Foto dibagi menjadi beberapa kategori. Ada banyak sekali kategori foto, antara lain, foto keluarga, foto dokumentasi, foto resmi, foto salon, foto seni, foto kedokteran, foto infra merah, foto bawah laut, foto satelit, foto udara, foto mikro, foto jurnalistik, dan lain-lain.

Menurut pasal 1 angka 10 undang-undang No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta yang dimaksud dengan potret adalah karya fotografi dengan objek manusia. Banyak orang yang mengira bahwa jika memiliki sebuah potret atau foto orang lain, dapat memakai foto tersebut untuk kepentingan dirinya. Jika mempunyai sebuah foto orang atau potret yang didapatkan melalui perangkat kamera sendiri maka hanya mempunyai hak ciptanya saja. Yang dimaksud hak cipta menurut Pasal 1 angka 1 UU Hak Cipta tahun 2014 adalah hak eksklusif pencipta yang timbul secara otomatis berdasarkan prinsip deklaratif setelah suatu ciptaan diwujudkan dalam bentuk nyata tanpa mengurani pembatasan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Untuk keperluan ekonomi atau periklanan telah diatur sendiri dalam pasal 12 ayat (1) dan (2) mengenai hak ekonomi atas potret. Ayat (1) berbunyi :

“setiap orang dilarang melakukan penggunaan secara komersial, penggandaan, pengumunan , pendistribusian, dan/atau komunikasi atas potret yang dibuatnya guna kepentingan reklame atau periklanan secara komersial tanpa persetujuan tertulis dari orang yang dipotret atau ahli warisnya.”

Sedangkan Ayat (2) berbunyi:

“penggunaan secara komersial, penggandaan, pengumuman, pendistribusian, dan/atau komunikasi potret sebagaimana dimaksud pada ayat (1) yang memuat potret 2 (dua) orang atau lebih, wajib meminta persetujuan dari orang yang ada dalam potret atau ahli warisnya.”

Yang dimaksud dengan “kepentingan reklame atau periklanan” adalah pemuatan potret antara lain pada iklan, banner, billboard, kalender, dan pamphlet yang digunakan secara komersial. Jika seseorang mempunya hak cipta atas foto atau potret yang terdapat gambar orang lain didalamnya, harus meminta izin penggunaan foto tersebut kepada orang yang ada di dalam foto atau ahli warisnya.

Jika seseorang melanggar ketentuan tersebut maka akan dikenai sanksi sesuai dengan Pasal 115 UU Hak Cipta yang berbunyi

“Setiap orang yang tanpa persetujuan dari orang yang dipotret atau ahli warisnya melakukan Penggunaan Secara Komersial, Penggandaan, Pengumuman, Pendistribusian, atau Komunikasi atas Potret sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 untuk kepentingan reklame atau periklanan untuk Penggunaan Secara Komersial baik dalam media elektronik maupun non elektronik, dipidana dengan denda pidana paling banyak Rp500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

SUMBER :

Abdul Aziz, Fotografi Dasar, Surabaya, 2015.

Undang-undang No 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta

Related Post
Pelanggaran Hak Terkait dalam Industri Hiburan

Pelanggaran Hak Terkait dalam Industri Hiburan — Beberapa hari belakangan ini publik dihebohkan dengan kemunculan tiga pemuda mirip anggota grup Read more

Tata Cara Pendaftaran Merek di Indonesia

Merek adalah tanda yang dapat ditampilkan secara grafis berupa gambar, logo, nama, kata, huruf. Angka, susunan warna, dalam bentuk 2 Read more

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *