Upaya Perlawanan Pihak Ketiga terhadap Putusan Perdata

Upaya Perlawanan Pihak Ketiga terhadap Putusan Perdata—Putusan Pengadilan Perdata yang bersifat contentiosa umumnya hanya mengikat para pihak yang berperkara, namun sebenernya pihak yang tidak berperkara juga bisa terkena dampaknya. Hal ini terjadi apabila ada kepentingan/hak keperdataan pihak yang tidak berperkara (pihak ketiga) yang ikut terdampak akibat munculnya putusan pengadilan tersebut. Pihak ketiga tersebut dapat melakukan upaya hukum terhadap putusan tersebut. Apakah upaya hukumnya tersebut?

Perlawanan Pihak Ketiga (Derden Verzet)

Dalam hukum acara perdata Indonesia, pihak ketiga yang haknya dilanggar karena eksekusi putusan perdata pengadilan negeri dapat melakukan perlawanan atau bantahan, perlawanan ini dinamakan derden verzet. Verzet diartikan sebagai perlawanan yakni perlawanan terhadap pelaksanaan sebuah putusan di mana verzet dapat menghentikan sementara proses eksekusi sebuah putusan perkara perdata oleh pengadilan negeri. Derden Verzet penjelasannya ada dalam Pasal 195 Ayat (6) Herzein Inlandsch Reglement (HIR) yang berbunyi:

“Perlawanan terhadap keputusan, juga dari orang lain yang menyatakan bahwa barang yang di sita miliknya, dihadapkan serta diadili seperti segala perselisihan tentang upaya paksa yang diperintahkan oleh pengadilan negeri, yang dalam daerah hukumnya terjadi keputusan itu”

Selain itu terdapat pula dalam Pasal 206 Ayat (6) Rechtreglement voor de Buitengewesten (Rbg) yakni:

“Perlawanan, juga yang datang dari pihak ketiga., berdasarkan hak milik yang diakui olehnya yang disita untuk pelaksanaan putusan, juga semua sengketa mengenai upaya-upaya paksa yang diperintahkan, diadili oleh pengadilan negeri yang mempunyai wilayah hukum yang dimana dilakukan perbuatanperbuatan untuk melaksanakan keputusan hakim.”

Hak pihak ketiga dalam melakukan perlawanan terhadap putusan pengadilan yang merugikan hak-haknya dibenarkan sesuai dengan Pasal 378 Reglement op de Burgerlijk Rechtsvordering (Rv) yang menyatakan:

“Pihak-pihak ketiga berhak melakukan perlawanan terhadap suatu putusan yang merugikan hak-hak mereka secara pribadi atau wakil mereka yang sah menurut hukum ataupun pihak yang mereka wakili tidak dipanggil di siding pengadilan atau karena penggabungan perkara atau campur tangan dalam perkara pernah menjadi pihak.”

Dalam perkara perlawanan ini, pihak ketiga yang mengajukan derden verzet disebut sebagai Pelawan sedangkan pihak penggugat pada perkara awal disebut sebagai Terlawan Penyita dan tergugat pada perkara awal disebut sebagai Terlawan Tersita. Adapun pemeriksaan perkara derden verzet diatur dalam Pasal 379 Rv yakni:

“Perlawanan ini diperiksa hakim yang menjatuhkan putusan itu. Perlawanan di ajukan dengan suatu pemanggilan untuk menghadap sidang terhadap semua pihak yang telah mendapat keputusan dan peraturan umum mengenai cara berpekara berlaku dalam perlawanan ini.”

Dalam hal ini, pemeriksaan perkara derden verzet sama sebagaimana proses pemeriksaan gugatan biasa. Pihak ketiga selaku Pelawan harus dapat membuktikan bahwa perlawanan yang diajukan olehnya tepat dan beralasan artinya pihak ketiga ini harus dapat membuktikan bahwa objek yang disita merupakan objek yang dimilikinya atau disewanya dengan secara sah. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 380 Rv yaitu:

“Jika putusan yang demikian dijatuhkan terhadap pihak ketiga dalam suatu persidangan dan perlawanan terhadapnya dilakukan sesuai pasal yang lalu, maka hakim yang memeriksa perkara berwenang jika untuk itu ada alasan-alasan mengizinkan penundaan perkara itu sampai perkara perlawanan diputus.”

Retnowulan Sutantio dan Iskandar Oeripkartawinata dalam bukunya, “Hukum Acara Perdata Dalam Teori dan Praktek” menjabarkan beberapa hasil putusan apabila pihak ketiga selaku Pelawan dikabulkan gugatan derden verzet-nya yakni:

  1. Pelawan dinyatakan sebagai pelawan yang benar.
  2. Sita jaminan atau sita eksekutorial yang bersangkutan ditangguhkan/diangkat.
  3. Para terlawan hukum dihukum membayar biaya perkara.

Terakhir, yang tak kalah penting untuk diingat, gugatan derden verzet terhadap putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap (inkracht) hanya bisa diajukan selama eksekusi putusan belum dilaksanakan. Karena apabila eksekusi putusan telah dilaksanakan, upaya yang ditempuh pihak ketiga bukan lagi sebagai perlawanan namun merupakan gugatan contentiosa perdata.

Related Post
Mengenal Gugatan Contentiosa dalam Perkara Perdata

Contentiosa dan Voluntair dalam Perkara Perdata—Dalam persidangan terkait perdata, sering kita mendengar tentang gugatan, apa pengertian tentang gugatan? Gugatan Contentiosa Read more

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *